Kepala Sekretariat

Kepala Sekretariat Bawaslu Sulteng

 

“Perlakukan orang lain sebagaimana anda ingin diperlakukan”
Nama : Dra. Hj. Anayanthy Sovianita, M.Si
TTL : Palu, 4 September 1967
Jabatan : Kepala Sekretariat Bawaslu Sulteng
Pendidikan :
  • SD Muhammadyah II Palu
  • SMPN I Palu
  • SMAN I Palu
  • Universitas Tadulako
  • Pascasarjana Universitas Tadulako
Agama : Islam

Tahun 2011 DPR RI mengesahkan Undang-Undang No. 15 Tahun 2011 sebagai pengganti dari UU No. 22 tahun 2007 tentang Penyelenggara Pemilihan Umum, dimana salah satunya adalah penguatan kelembagaan Panwaslu Propinsi yang sebelumnya adhoc menjadi Badan Pengawas Pemilihan Umum yang permanen. Itulah sebabnya pada bulan agustus 2011 Bawaslu RI telah melakukan seleksi terhadap calon Bawaslu Propinsi Sulawesi Tengah yang akhirnya menetapkan tiga orang anggota Bawaslu masing-masing Ratna Dewi Pettalolo, SH,MH, Asrifai, SIp,MSi, dan Zaidul Bachri Mokoagow, S.Sos.

Sekretariat Bawaslupun akhirnya turut di bentuk, dan saat itu juga diangkat pula Dra. Anayanthy Sovianita, MSi sebagai Koordinator Sekretariat Bawaslu Propinsi Sulawesi Tengah. Dimana sebelumnya beliau bekerja di Dinas Pendidikan dan Pengajaran Propinsi Sulawesi Tengah selama lebih kurang empat bulan setelah hampir 20 tahun menghabiskan waktu untuk menjadi Guru SMA/SMK di kota Palu.

Pada bulan Juli 2013, Bawaslu Propinsi resmi menjadi Satuan kerja sendiri, karenanya 25 Koordinator Sekretariat se Indonesia dilantik oleh Sekjend Bawaslu RI sebagai Kepala Sekretariat. Memulai karir ASN sebagai guru membuat ibu dari lima orang anak ini bisa cepat beradaptasi di tempat kerja yang baru. Karena belajar adalah tugas wajib seorang guru, masih terus terbawa hingga kini. Meskipun banyak hal yang membuatnya harus pontang panting mengejar ketertinggalan. Maklum latar belakang pendidikan beliau yang sama sekali bertolak belakang dengan bidang pekerjaan yang akhirnya harus beliau tekuni.

Bu Kasek tidak pernah belajar ilmu politik ataupun ilmu hukum, sehingga Learning by doing itulah yang beliau terapkan selama bekerja di Bawaslu. Karena menurut beliau ketidak sesuain itu tidak boleh menjadi alasan untuk mengerjakan tugas secara apa adanya. Membaca, berdiskusi dengan mereka yang lebih paham, menyerap semua kejadian yang terjadi dilingkungan sekitarnya, dan memberanikan diri mengambil keputusan adalah kiat beliau untuk memahami pekerjaannya secara utuh. Dua kali mengawal Pemilihan presiden, dan pemilihan anggota legislatif serta berulang-ulang mengawal Pemilihan Kepala Daerah di propinsi dan kabupaten melengkapi perjalanan karir beliau. Slow but sure, akhirnya alumni pasca sarjana Universitas Tadulako ini, akhirnya memahami betul apa yang menjadi tugas dan kewajibannya.

Kebiasaan berbagi kisah dimeja makan bersama keluarga, bertukar ide dengan teman sejawat, dan cerita ceria dengan sudut pandang yang berbeda antara atasan dan bawahan, memperhatikan semua keluh kesah jajaran adhok secara langsung hingga menjadi pendengar atas mimpi dari para pejuang kehidupan yang mungkin terkesan sederhana, namun menjadi sumber inspirasi dan penyemangat tersendiri dalam memaknai kehidupan dan mematangkan diri beliau dalam berproses. Tentu saja semua itu tidak tergantikan oleh emocticon, emoji ataupun fitur artifiasial digital lainnya. At least hingga nyaris tujuh tahun beliau bekerja di Bawaslu, banyak hal yang telah terjadi dan di jalani yang memperkaya batinnya dalam memaknai waktu dan kehidupan.

Komitmen untuk memberikan yang terbaik adalah motto hidup perempuan berusia 52 tahun ini, komitmen itulah yang membuat dia berani menerima tantangan Sekjend Bawaslu untuk mengikuti Diklat PIM III di Lembaga Administrasi Negara Jakarta. Dan Alhamdulillah meraih juara II dan lulus dengan sangat memuaskan. Meski itu tidak menjamin dia bisa lebih mudah menghadapi pekerjaan, namun rasa percaya diri itu tumbuh dari sana, bahwa tak ada yang mustahil jika kita mau berusaha dan giat belajar.

Sebagai Kepala Sekretariat Bawaslu Propinsi yang pertama, beliau berusaha meletakkan fondasi penting dalam tata kelola lembaga, dengan mengedepankan value kepegawaian sebagai anggota keluarga dan aset terpenting di kantor serta penerapan budaya kerja yang lebih dinamis dan agile kepada segenaf staf.
Tugas utama sekretariat adalah memberikan pelayanan kepada komisioner dan publik. Karenanya kepuasan para penerima mamfaat dari kerja-kerja sekretariat adalah hal pertama dan utama. Itulah yang sejatinya harus dipahami oleh segenap staf sekretariat dalam melaksanakan tugas kesehariannya. Dan berusaha beliau tanamkan dengan baik. Semakin tinggi jabatan seseorang maka semakin besar pula tanggung jawab pelayanannya. Sebagai kepala sekretariat maka tugas pelayanan yang paling berat ada ditangannya. Karena beliau tidak saja harus memuaskan para penerima mamfaat pekerjaannya tapi juga bertugas mengayomi seluruh staf dengan pelayanan terbaik. Menggenapi perjalanan selama tujuh tahun ini, tak henti-hentinya beliau mengucapkan terima kasih kepada segenap staf dan pimpinan Bawaslu sebagai aset penting lembaga untuk terus berakselerasi bersama menuju “satu titik yang lebih baik”

Waktu memang tidak bisa diulang, tidak mungkin kita minta kembali. Namun waktu selalu ada di depan dan meminta kita memberikan dia suatu makna yang akan dia letakkan di album kehidupan kita yang kekal selamanya.

Akhir kata, kebersamaan dan kekompakkan kita dalam melayani bukan hanya memberi kesan baik bagi publik tapi menumbuhkan trust masyarakat kepada penyelenggara pemilu. Penyelenggara pemilu yang kuat dan bersih akan menghasilkan pemilu yang bersih. Pemilu yang bersih akan menghasilkan pemimpin yang kuat.