Dewi Ajak Pemilih Pemula Tolak Politik Uang
|
Donggala, Bawaslu Sulteng – Membangun kesadaran demokrasi sejak dini menjadi langkah strategis dalam mewujudkan pemilu yang jujur, adil, dan berintegritas. Generasi muda, khususnya pemilih pemula, memiliki peran penting dalam menentukan kualitas demokrasi melalui partisipasi yang cerdas serta keberanian menolak segala bentuk praktik politik uang.
Hal tersebut disampaikan Anggota Bawaslu Provinsi Sulawesi Tengah, Dewi Tisnawaty, saat menjadi narasumber pada kegiatan Kelas Pemula Demokrasi Donggala (KALEDO) yang diselenggarakan Bawaslu Kabupaten Donggala di SMA Negeri 1 Banawa Tengah, Kamis (16/07/2026).
Di hadapan siswa-siswi kelas XII SMA Negeri 1 Banawa Tengah, Dewi menegaskan bahwa setiap suara dalam pemilu memiliki nilai yang sama dan menjadi penentu arah pembangunan bangsa. Karena itu, para pemilih pemula diharapkan menggunakan hak pilih secara bertanggung jawab dan tidak mudah dipengaruhi oleh kepentingan sesaat.
"Saya optimis kepada adik-adik sebagai pemilih pemula. Kalian bukan sekadar pemilih baru, tetapi generasi yang akan menentukan wajah demokrasi Indonesia di masa depan, khususnya di Kabupaten Donggala," ujar Dewi.
Koordinator Divisi Pencegahan, Partisipasi Masyarakat, dan Hubungan Masyarakat Bawaslu Provinsi Sulawesi Tengah itu menjelaskan bahwa politik uang masih menjadi salah satu tantangan terbesar dalam penyelenggaraan pemilu. Menurutnya, praktik tersebut sering kali dianggap sebagai sesuatu yang lumrah, padahal dapat merusak integritas demokrasi dan melahirkan kepemimpinan yang tidak berpihak pada kepentingan masyarakat.
"Jangan pernah tergiur politik uang. Ada anggapan 'ambil uangnya, tetapi pilih sesuai hati', padahal pola pikir seperti itu justru membuat praktik politik uang terus hidup," tegasnya.
Dewi menambahkan bahwa menerima politik uang sama dengan mempertaruhkan masa depan daerah dan bangsa. Oleh karena itu, ia mengajak para pelajar menjadi pemilih yang cerdas dengan berani menyatakan bahwa suara rakyat tidak untuk diperjualbelikan dan demokrasi tidak boleh dibeli.
Selain itu, ia juga mendorong para siswa untuk menjadi bagian dari pengawas partisipatif dengan berani melaporkan dugaan pelanggaran, meluruskan informasi yang menyesatkan, serta menolak praktik politik uang apabila menemukannya di lingkungan sekitar.
Menurutnya, kualitas demokrasi tidak hanya ditentukan pada hari pemungutan suara, tetapi dimulai dari karakter masyarakat yang menjunjung kejujuran, integritas, dan keberanian melawan setiap bentuk kecurangan.
"Mari menjadi bagian dari perubahan. Jadilah pemilih yang cerdas, pengawas yang berani, dan generasi yang menjaga marwah demokrasi," tutup Dewi.
Melalui kegiatan tersebut, Bawaslu Provinsi Sulawesi Tengah berharap semakin banyak pemilih pemula yang memiliki pemahaman kepemiluan, berani menolak politik uang, serta berpartisipasi aktif dalam mengawal demokrasi yang jujur, adil, dan berintegritas.
Penulis: Syukran
Foto: Humas Dongala
Editor: Milan